
Jika sudah tiba di
kota Baubau dan kita menyempatkan diri naik ke lingkungan benteng keraton
Buton, maka yang pertama kita jumpai disisi kanan pintu gerbang benteng itu
adalah Mesjid Agung Keraton Buton dengan tiang bendera Kesultanan Buton
menjulang disisinya. Semua pewaris sejarah lisan di Buton mengakui bahwa tiang
bendera kayu itu sudah berusia sekitar empat abad lamanya. Kemudian jangan lupa
menginjakkan kaki ke malige (mahligai Kesultanan Buton) yang berdiri anggun di
pertengahan kota Baubau. Rumah adat itu asli buah tangan arsitektur tradisional
Buton, sebuah rumah panggung yang berjenjang bertingkat tanpa menggunakan pasak
sebagai perangkainya.
Setelah menyaksikan dan mengetahui semua itu, dengan sedikit wawasan tentang
sejarah dan kebudayaan kita sudah bisa berkesimpulan bahwa Buton pada masa
lampau adalah Negara Kesultanan yang telah mencapai puncak peradaban yang
tinggi di Nusantara ini. Siapa pun orang Buton yang mendengarkan kesimpulan
kita itu seharusnyalah merasa bangga dan berterima kasih pada leluhurnya yang
telah mewariskan peradaban yang setinggi itu kepada anak cucunya di tanah Buton
ini.
Mari pula kita telusuri ilmu dan ajaran yang dititipkan para leluhur Buton.
Bacalah berbagai naskah “Kabhanti Oni Wolio” yang ditulis oleh Sultan La Ode
Muhammad Idrus Kaimuddin yang bergelar Sultan Murhum (Sultan Buton yang
pertama) atau yang ditulis oleh tokoh sufi La Ode Haji Abdul Ganiu. Lalu
bandingkan pula dengan ajaran-ajaran Islam suluk yang dibisikkan dari mulut ke
mulut atau yang disalin dari tangan ke tangan, seperti apa yang mereka sebut
dengan “Insan Kamil”, “Zurriati Adam”, atau “Asrarul Aifin”, misalnya. Mari
kita perhatikan pula tradisi penyampaian ajaran lisan orang-orang tua Buton
yang selalu dalam bentuk ungkapan, kiasan dan bahkan simbolik, kemudian
bandingkanlah dengan tradisi pepali yang sudah terbukti begitu efektif bagi
pembinaan akidah akhlak anak-anak Buton dahulu.
Sebelum selesai, mungkin juga takkan pernah selesai, kita menelaah dan mengkaji
semua itu kembali kita akan terkagum-kagum bahwa leluhur Buton dahulu adalah
orang-orang mulia, tokoh-tokoh sufi sekaligus pemimpin yang telah mencapai puncak
kearifan yang tinggi di nusantara ini. Siapa pun kita yang mengaku orang Buton
sepantasnyalah merasa bangga dan berusaha menghargai dan memelihara
“nilai-nilai kearifan” itu sebagai pusaka titipan leluhur Buton yang tak
ternilai harganya.
Dengan menggambarkan Buton seperti di atas, saya bermaksud ingin menegaskan
sikap dan pandangan saya sebagai orang Buton, bahwa kebesaran Buton yang
sesungguhnya adalah pencapaian “puncak peradaban” dan “puncak kearifan” di
tanah Buton ini. Sebagai orang beragama dan berbudaya, jika generasi Buton
sadar dan mau berjuang keras memelihara dan memberdayakan kedua pusaka dari
leluhurnya itu, maka kebesaran dan kehormatan orang Buton tak akan pernah jatuh
baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sayang sekali, maha karya leluhur yang
bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam itu justru masih disia-siakan oleh anak
cucunya sendiri. Kebesaran Buton ada di tanah Buton, tapi generasi Buton justru
mengabaikannya.
Di sini saya tak akan berpanjang urai lagi tentang mengapa generasi Buton hari
ini seperti itu. Salah satu pokok penyebabnya telah saya paparkan pada artikel
saya berjudul “Egomania Orang Buton, Antara Mitos dan Realitas” dalam sk harian
Baubau Pos, 21 November 2010. Di sini saya hanya ingin mengomentari keadaan
generasi muda Buton yang cenderung telah melalaikan ketinggian peradaban dan
kekayaan nilai-nilai kearifan dari leluhurnya itu.
Di satu sisi, saya sangat menghargai tingginya kepedulian generasi muda Buton
terhadap sejarah negerinya, seperti terlihat pada menjamurnya tulisan, diskusi,
dan bahkan debat tentang sejarah Buton melalui jaringan internet pada saat ini.
Namun, di sisi lain saya skeptis bahwa cara dan sikap yang mereka tunjukkan
cenderung semakin jauh dari cara dan sikap seorang sejarahwan sejati. Tulisan dan
gagasan mereka yang dikatakannya sebagai sejarah itu ternyata hanyalah
tumpukkan sejumlah sketsa dan/atau fragmen tentang Buton. Hal-hal yang
memprihatinkan saya dari sikap-sikap ilmiah mereka antara lain sebagai berikut
ini.
Ada di antara mereka yang secara terbuka menggugat sejarah Buton dengan alasan
sejarah Buton selama ini sangat berbau mitos, kurang didukung fakta, dan
subjektif. Tapi sesudah saya baca seluruh episode tulisannya, tak pernah
dijelaskan tentang sejarah Buton yang mana atau karangan siapa sebenarnya yang
sedang digugat. Anehnya, ternyata dasar yang mereka gunakan dalam gugatan itu
adalah “keberadaan Buton” dalam tulisan sejarah versi Majapahit atau versi
Belanda. Lupakah mereka bahwa sumber yang mereka agungkan itu dibuat atas
pesanan raja Kerajaan Majapahit yang terkenal haus kekuasaan atau atas restu
pemerintah Belanda yang haus penjajahan. Apa jaminannya bahwa sumber-sumber itu
tidak subjektif. Tidak terpikirkah oleh mereka bahwa dari manakah orang
Majapahit dan orang Belanda memungut data itu kalau bukan dari Buton.
Lebih ironis lagi, dengan bersandar pada sumber-sumber tersebut mereka menuding
tulisan “Sejarah Buton” karya La Ode Mulku Zahari sebagai mistos, berisi ilusi,
dan subjektif. Entah hantu apa yang merasuki mereka sampai menyepelekan
kredibilitas La Ode Mulku Zahari sebagai tokoh pelaku sejarah Buton yang
berdarah asli Buton, dokumentator naskah-naskah asli Buton, yang berpuluh tahun
mengumpulkan data dan informasi dari nara sumber yang paling andal di Buton
dalam rangka penulisan sejarah Buton tersebut. Apakah mereka lupa atau tidak
tahu, bahwa modal pertama dan paling utama bagi penulis sejarah itu adalah
“niat baik” dan hanya untuk “ kebaikan”. Dalam penulisan sejarah apapun, demi
kejujuran memang penting, tetapi yang lebih penting lagi dari itu adalah demi
kebaikan. Orang-orang yang tidak beragama pun telah membenarkannya sejak tahun
70-an, bahwa ilmu pengetahuan yang mengabaikan nilai-nilai moral-spiritual
hanya akan menimbulkan kehancuran dan konflik yang berkepanjangan.
Dengan keprihatinan seperti di atas ini, saya merasa terdesak untuk memberikan
pernyataan sikap bahwa: meskipun Anda berdarah tulen keturunan raja atau sultan
Buton, lahir dari rahim tanah Buton, tumbuh dan besar di pusat benteng keraton
Buton, tanpa kearifan Anda pasti tersesat dalam mencari dan menemukan Buton
yang sesungguhnya. Buton bukan sejarah yang terkalahkan, Buton bukan mitos yang
disejarahkan atau sejarah yang dimitoskan. Buton bukan pula sketsa atau fragmen
yang dipungut dan dicomot begitu saja dari tulisan-tulisan pesanan penguasa
Majapahit yang serakah kekuasaan atau tulisan-tulisan yang direstui penguasa
Belanda yang haus penjajahan, dan bukan pula pernyataan tokoh-tokoh pejuang
daerah lain yang penuh ambisi dan rakus kedudukan pada masa-masa awal
kemerdekaan bangsa Indonesia yang harus kita cintai ini. Buton adalah sebuah
Negara Kesultanan yang telah berhasil mencapai puncak peradaban Islam yang
tinggi di Nusantara.
Kewajiban utama generasi Buton hari ini adalah menempatkan Buton pada proporsinya
seperti itu. Generasi Buton hari ini tak perlu terlalu memaksa Buton untuk
mewariskan pahlawan nasional, tak perlu terlalu mempertikaikan kebanggaan asal
usul keturunan atau daerah asal, karena kesemuanya bisa menimbulkan sifat ria’
dan sombong yang sangat tercela dalam agama Islam, sehingga pasti pula tidak
dikehendaki oleh leluhur Buton yang sangat mengutamakan keridhaan Tuhan dalam
seluruh medan perjuangannya. Leluhur Buton telah memberikan sesuatu yang lebih
dari semua itu, telah mewariskan “gedung peradaban Islam yang megah dan kokoh”
serta menitipkan “lembaga kearifan” sebagai kunci emas untuk membuka dan
merawat gedung peradaban yang membanggakan itu. Dengan kedua pusaka agung itu,
tentu sangat kita mengerti bahwa leluhur di Buton tidak hanya mengharapkan anak
cucunya untuk berjaya di dunia yang penuh tipu daya dan kepalsuan ini, tetapi
juga bisa selamat dan terhormat tempatnya di akhirat kelak.
Marilah kita reguk berbagai minuman kearifan yang dititipkan leluhur kita di
tanah Buton ini. Karena, hanya dengan kearifan itulah kita bisa layak menempati
istana peradaban Islam yang diwariskan oleh leluhur kita di Buton ini. Marilah
kita libatkan segala kemampuan dan keahlian generasi Buton untuk mengumpul,
menggali, mengolah, dan mengamalkan segala nilai-nilai kearifan Buton yang
terpendam selama ini. Mari pula kita libatkan seluruh tenaga dan keahlian
generasi Buton untuk menegakkan kembali gedung peradaban Islam Buton yang
sempat tertutup debu sejarah di tanah Buton ini. Mari kita mulai dari satu butir
kearifan Buton ini: “orang arif tidak hanya tahu apa yang harus diperbuat,
tetapi juga harus tahu apa akibat dari perbuatannya itu”.
No comments:
Post a Comment